Dalam dialog yang berlangsung di Studio Radio Sisnet, Manggar, Fitriana menjelaskan bahwa asesmen intelegensi tidak hanya berfungsi untuk mengukur tingkat kecerdasan anak, tetapi juga menjadi dasar dalam menentukan pola pendidikan dan bentuk stimulasi yang sesuai dengan kondisi masing-masing anak.
“Pemeriksaan intelegensi bertujuan untuk mengetahui profil kemampuan kognitif anak. Dari hasil tersebut, orang tua dan pendidik dapat menentukan bentuk pendampingan dan stimulasi yang tepat agar potensi anak berkembang secara optimal,” ujar Fitriana.
Ia menuturkan, pemeriksaan IQ dapat dilakukan sesuai tahapan usia, mulai dari usia prasekolah hingga remaja. Hasil tes tersebut, lanjut Fitriana, sangat membantu dalam mengidentifikasi anak yang memiliki hambatan belajar, kesulitan konsentrasi, hingga keterlambatan perkembangan tertentu.
Menurutnya, masih banyak ditemukan kasus anak di usia sekolah menengah yang mengalami kesulitan dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung. Kondisi tersebut, kata dia, sering kali disebabkan karena tidak adanya deteksi dini terhadap kemampuan kognitif anak.
“Jika sejak awal tidak dilakukan asesmen, anak bisa terus dipaksakan mengikuti sistem pendidikan reguler, padahal sebenarnya membutuhkan pendekatan khusus. Ini berisiko menimbulkan tekanan psikologis dan menurunkan kepercayaan diri anak,” katanya.
Fitriana menegaskan, hasil pemeriksaan intelegensi tidak dimaksudkan untuk memberikan label negatif, melainkan sebagai instrumen ilmiah untuk membantu orang tua memahami kondisi anak secara objektif, termasuk dalam menentukan apakah anak dapat mengikuti sekolah reguler, pendidikan inklusi, atau memerlukan layanan pendidikan khusus.
Selain faktor kognitif, Fitriana juga menyoroti meningkatnya kasus keterlambatan bicara dan interaksi sosial pada anak. Salah satu penyebab yang dominan adalah penggunaan gawai secara berlebihan tanpa pendampingan orang tua.
“Paparan gadget yang tidak terkontrol membuat anak minim interaksi langsung. Ini berdampak pada kemampuan bahasa, konsentrasi, hingga perkembangan sosial-emosional anak,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa perkembangan intelegensi anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari genetik, lingkungan keluarga, pola asuh, hingga asupan gizi sejak masa kehamilan. Nutrisi yang cukup, terutama protein dan omega-3, dinilai berperan penting dalam mendukung perkembangan fungsi otak anak.
Dalam kesempatan tersebut, Fitriana mengajak para orang tua untuk lebih proaktif melakukan pemantauan tumbuh kembang anak melalui konsultasi dengan tenaga profesional, termasuk psikolog dan dokter spesialis anak.
“Setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Dengan pemeriksaan intelegensi, orang tua dapat memahami kekuatan dan keterbatasan anak secara lebih objektif, sehingga mampu mengarahkan anak sesuai dengan kemampuannya,” tutup Fitriana.
Program Talk Show Kesehatan Radio Sisnet 90,5 FM ini merupakan bagian dari kerja sama antara Radio Sisnet dan RSUD Muhammad Zein Kabupaten Belitung Timur dalam rangka memperkuat edukasi publik di bidang kesehatan, khususnya terkait tumbuh kembang dan kesehatan mental anak.(S)




