Notification

×

Iklan

Iklan

“Mencaci dan Menghina Orang di Belakangnya adalah Sifat Membuka Aib Diri Sendiri”

Jumat, 09 Januari 2026 | Januari 09, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-09T01:46:16Z

 


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pendengar setia Radio Sisnet Belitung Timur,
kembali kita berjumpa dalam program “Sebaiknya Anda Tahu”,
sebuah ruang renungan untuk menata hati, menjaga lisan, dan memperbaiki sikap…
bukan untuk menyalahkan siapa pun,
melainkan untuk menyadarkan diri kita sendiri.


🎙️ Isi Utama – Menjaga Lisan

Pendengar yang dirahmati Allah,
di sekitar kita, sering kita jumpai orang yang mudah menuduh,
mudah merendahkan,
mudah melabeli orang lain dengan kata-kata seperti
“tidak tahu terima kasih”,
“tidak tahu diri”,
padahal orang yang dituduh tidak tahu apa-apa.

Ucapan seperti ini sering keluar
tanpa pikir panjang,
tanpa tabayyun,
tanpa rasa takut kepada Allah.

Padahal sesungguhnya,
mencaci dan menghina orang di belakangnya
bukan sedang membuka aib orang lain,
melainkan sedang membuka aib diri sendiri.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik daripada mereka.”
(QS. Al-Hujurat: 11)


🎙️ Bahaya Lisan yang Tak Terkendali

Pendengar Radio Sisnet,
lisan yang tidak terjaga
lebih berbahaya dari pedang.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir,
maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Namun hari ini,
banyak orang berbicara seenaknya,
menghina seenaknya,
seolah-olah mulutnya tidak punya aturan,
dan hatinya tidak lagi takut kepada Allah.

Inilah yang berbahaya.
Karena orang yang tidak takut dosa dari lisannya,
hakikatnya sedang mengikis imannya sendiri.

Allah SWT mengingatkan:

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya
melainkan ada malaikat pengawas yang selalu hadir.”

(QS. Qaf: 18)


🎙️ Teladan Para Nabi dan Sahabat

Pendengar yang berbahagia,
Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang paling mampu membalas,
namun beliau memilih memaafkan.

Saat dihina di Thaif,
dilempari batu hingga berdarah,
beliau tidak mencaci,
tidak mengutuk,
bahkan berdoa:

“Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku,
karena mereka tidak mengetahui.”

Begitu pula sahabat Nabi, Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Ketika dihina, beliau sempat membalas.
Namun saat Rasulullah SAW pergi meninggalkannya,
Abu Bakar sadar dan langsung diam.
Beliau memilih menjaga akhlak
daripada memenangkan perdebatan.

Inilah kemuliaan yang Allah abadikan,
bukan karena kata-kata kasar,
tetapi karena kesabaran dan keluhuran budi.


🎙️ Renungan untuk Kita Semua

Pendengar Radio Sisnet Belitung Timur,
sebelum menuduh orang lain tidak tahu terima kasih,
bertanyalah pada diri sendiri:

➡️ Sudahkah kita adil?
➡️ Sudahkah kita tabayyun?
➡️ Sudahkah lisan kita selamat dari dosa?

Karena boleh jadi,
orang yang kita rendahkan di hadapan manusia,
justru lebih mulia di hadapan Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Cukuplah seseorang dikatakan buruk
jika ia merendahkan saudaranya.”

(HR. Muslim)


🎙️ Penutup – Pesan Bijaksana

Pendengar yang saya hormati,
menjaga lisan bukan tanda kelemahan,
tetapi tanda kedewasaan iman.

Lebih baik diam dan selamat,
daripada bicara dan menyesal.

Karena setiap kata yang keluar,
akan kembali kepada diri kita sendiri.

Saya pamit dari program “Sebaiknya Anda Tahu”,
bersama Radio Sisnet Belitung Timur.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh (SS)

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update